Sebuah Pengalaman
Saat kelas hari ini
sudah selesai, aku dan teman-teman memutuskan untuk langsung pulang tanpa
alasan apapun seperti biasanya, pulang tepat waktu alias aku merindukan kasurku
yang empuk itu dirumah. Hari ini, matahari sedang terik-teriknya sampai aku dan
yang lainnya mau tidak mau harus berjalan dengan cepat untuk sampai ke halte
bus. Tadi di kelas, aku mendengar beberapa temanku membicarakan tentang aksi
yang akan dilaksanakan di depan gedung DPR esok hari. Aku yang setengah mengerti
hanya tersenyum sambil menyimpan bingung mendengarkan pembicaraan mereka. Ada
salah satu teman kelasku yang mengajak untuk ikut serta, aku menolaknya dan
memilih untuk masuk kelas saja.
Akhirnya aku tiba juga
dirumah, lalu berganti pakaian dan merebahkan badan di kasurku. Sedangkan di
luar kamarku, Ibu menyalakan televisi dan terus mengganti stasiun beberapa kali
sampai menemukan tayangan yang sedap untuk ditonton dan Ibu berhenti di salah
satu stasiun televisi yang menayangkan berita aksi demo mahasiswa di depan
gedung DPR. Ayah yang sedang menontonpun langsung berbicara “Aduh ngerih banget
rusuh, jangan ikut-ikut deh” kata ayah dengan suara kerasnya, sampai terdengar
ke kamarku. Tiba-tiba gawaiku berdering beberapa kali, rupanya ada pesan dari
grup kelasku yang menanyakan keikut sertaan dalam aksi esok hari. Aku yang
awalnya hanya iseng, menghampiri Ibu dan bertanya , “Besok mau ikut aksi boleh
gak, bu?”. Lalu Ibu menjawab “Ya ikut aja gapapa, asal jangan ditengah-tengah,
sore harus udah pulang”, padahal aku pikir Ibu tidak akan membolehkan. Ayah
yang mendengar percakapan aku dan ibu langsung ikut berbicara “Gausah lah,
bahaya. Udah besok ikut kelas aja belajar”. Entah mengapa tiba-tiba aku
berfikir untuk ikut aksi esok hari. Akhirnya, aku mengisi daftar hadir untuk
aksi esok hari di grup kelasku.
Pagi pun datang, aku
yang sudah siap meminta izin kepada Ibu. Aku mencium tangan Ibu dan Ibu
berpesan agar selalu menjaga diri di sana. Aku memutuskan untuk naik kereta
berbarengan dengan Nurul. Akhirnya, tiba juga aku dan Nurul di stasiun Pal
Merah. Ternyata Nurma sudah lebih dulu sampai, selang beberapa menit Saffa juga
tiba, lalu kami memutuskan untuk keluar Stasiun menghampiri Daffa dan Imam yang
sedang duduk santai di halte. Kami lalu bercakap cukup lama sambil menunggu
teman sekelasku yang lain.
Saat di halte banyak
sekali Mahasiswa lain yang ramai menyerukan yel-yel nya di atas bus sambil
mengibarkan sang saka merah putih, aku merinding antara terharu dan bangga.
Akhirnya, teman-teman yang lain sudah tiba dan kami semua memutuskan untuk beranjak
menuju depan gedung DPR. Lautan Mahasiswa bergelombang di depan gedung, orasi
terdengar sangat lantang dimana-mana kemudian diakhiri dengan seruan “Hidup
Mahasiswa!”. Baru kali itu aku benar-benar merasa bangga menjadi seorang
Mahasiswa, ini kali pertama aku ikut aksi selama 3tahun kuliah.
Matahari pun sudah
berada di tengah-tengah langit, kami memutuskan untuk mencari teman-teman PNJ
yang lain untuk bergabung. Sambil berdesakan melewati Mahasiswa lain, kami
akhirnya menemukan kerumunan Mahasiswa PNJ. Bercakap-cakap dengan yang lain,
sambil melihat-lihat beberapa papan tulisan yang dibawa oleh mahasiswa. Dalam
aksi ini bukan hanya Mahasiswa yang melaksanakan, ada juga masyarakat bahkan
petani yang ikut mendukung suara rakyat.
Matahari mulai
menunduk, sore pun telah tiba. Mahasiswa PNJ membuat lingkaran pembatas untuk melindungi
mahasiswi yang ada di dalamnya. Lingkaran ini pun mulai berjalan melewati
kerumunan kampus lain dan ingin menuju ke titik awal berkumpul untuk mengakhiri aksi hari ini. Dan
berhentilah kami di depan GBK, kemudian aku memilih untuk duduk meluruskan kaki
yang uratnya mulai terasa mengumpul dan kaku, sambil meminum air mineral yang tadi
sempat aku beli di super market yang ada di Stasiun.
Lalu, kami pun kembali
di bariskan dan di giring entah menuju kemana, mungkin ke tempat yang lebih
aman. Suasana mulai sedikit kacau dan ricuh, suara teriakan terdengar
dimana-mana. Semua teman kelasku terpisah, tinggal Saffa yang masih ada
disebelahku. Bunyi sirine pun mulai terdengar dekat, semua orang berlarian. Aku
yang tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya ikut lari dan menarik tangan Saffa
yang masih kebingungan. Asap mulai menghampiri mataku mulai perih, ada salah
satu mahasiswi PNJ membagikan odol untuk dipakai dibawah mata.
Keadaan benar-benar
kacau, semua orang berlari kesana kemari seperti semut yang disirami air. Asap
yang dihembuskan langsung masuk kedalam tenggorokanku. Aku berlari sambil
memegang tangan Saffa dan menerobos barisan. Di sini kami semua tak lagi
memandang almamater, kami semua sama dalam menyuarakan kepentingan rakyat.
Semua saling membantu dan membahu, di sini mahasiswi paling diutamakan.
Melompat pagar dan menerobos barisan dalam keadaan panik, ada salah satu
mahasiswa yang entah dari kampus mana, suka rela membopongku menaiki tembok
semeter untuk bisa masuk ke dalam gedung yang berada di samping hotel Mulia.
Entah kemana Nurul, Nurma, Nasya, Imam dan Daffa, aku terpisah dari mereka
semua.
Akhirnya, aku dan Saffa
masuk ke dalam gedung. Semua orang panik dan gaduh, aku tak bisa berkutik dan
berbicara. Hanya air mata saja yang mengalir deras tanpa dipinta, baru kali itu
aku merasakan sebegitu sedihnya memperjuangkan suara rakyat di negeri sendiri.
Di perlakukan layaknya penjajah, padahal kami adalah penerus bangsa ini. Memang
benar apa yang ku lihat tadi di papan tulisan yang dibawa salah satu mahasiswi
yang bertulis “Negara ini sudah tidak beres, kalau yang apatis sampai turun ke
jalan”.

Komentar
Posting Komentar